tabunggaselpiji

the wonder of Indonesian horror movies.

Review Syirik

SYIRIK

Menurut sebagian besar orang, film yang baik adalah film yang selain menghibur, juga ada pesan yang dapat dibawa pulang seusai menyaksikan filmnya. Sebagai seorang penikmat film dengan selera tontonan yang luar biasa buruk dan kemampuan berpikir yang rendah, saya setuju setuju saja. Selama film tersebut dapat dinikmati, maka ya alhamdulillah.

Para filmmaker di balik film Syirik, merasa memiliki tanggung jawab untuk menggarap filmnya menjadi film yang tidak hanya menghibur, namun juga menyimpan pesan yang mampu diserap dan dibawa penonton setelahnya. Syukur syukur jika pesan tersebut diamalkan.

Maka sepanjang saya hidup selama dua puluh tahun lebih, Syirik mampu menyampaikan pesan-pesan berfaedah lebih baik dibanding semua film-film religi lokal dan khotbah Jum’at yang pernah saya terima digabung menjadi satu.

Yang pertama, film Syirik mengajarkan bahwa hadiah bagi kesabaran adalah nyata dan tidak sia-sia. Tentu dalam bentuk teori, kita sudah sering dicekoki mengenai pentingnya bersabar dan setiap kesabaran akan berbuah kebaikan. Tentu tentu. Kita sudah sering mendengarnya.

Namun Syirik mencoba mengaplikasikannya ke dalam media audio-visual; bukan disampaikan lewat sosok ustad yang menyampaikan ceramah panjang atau adegan menyayat hati. Film Syirik percaya bahwa bukti  atau perbuatan nyata lebih berarti dibandingkan ucapan kosong belaka. Maka Syirik mencoba menguji kesabaran penontonnya dengan menampilkan sepasang suami istri yang di setengah jam pertama filmnya hanya saling memanggil satu sama lain. Berulang-ulang. Berulang kali. Berkali-kali.

“Babe?” “Babe?”

“Sayang? Sayang? Kamu di mana? Sayang?”

“Babe?”

“Lady? Lady?”

“Romy? Romy?”

Salah satu dari mereka bahkan sampai bergetar suaranya karena terlalu sering memanggil.

Hantu di dalam film ini pun kerap memanggil mereka terus menerus. Berulang-ulang. Berulang kali. Berkali-kali.

Tidak hanya saling memanggil, sepasang suami istri ini pun kerap mengutarakan gomabalan dan rayuan kepada satu sama lain. Sang suami bahkan sempat bangga pada dirinya sendiri.

“Gombal juga ya gua. Bikin anak sekarang aja yuk?”

Apa ini? Dilan 2018? Saya tidak butuh.

Setengah jam awal filmnya melelahkan sekali. Repetitif dan berpotensi membuat penonton mengalihkan perhatian dari layar bioskop ke layar HP masing-masing. Meski masih ada beberapa bagian yang menghibur, namun tetap tidak sebanding dengan rasa jenuh yang ditimbulkan oleh repetisi adegan yang itu-itu saja. Sebaris penonton di sebelah saya bahkan akhirnya memutuskan untuk walkout dari ruangan.

Namun itulah kesalahan mereka: tidak sabar.

Jika mereka sabar dan berhasil melewati setengah jam awal filmnya yang membosankan, maka kalian akan digempur oleh twist demi twist.

Meski kumpulan twist tersebut mengabaikan dan memorak-morandakan logika dan akal sehat seenak jidatnya.

Tapi peduli setan. Yang penting penonton terkesima. Saya terkesima. Teman-teman saya terkesima. Jadi, ya, persetan kau logika dan akal sehat!

Selain itu, saya juga mendapatkan buah manis dari kesabaran yang selama ini saya pikir tidak akan saya dapatkan. Saya merasa tidak pantas memetik buah tersebut. Saya menyaksikan seorang perempuan hamil mengejar seorang nenek-nenek dengan pisau sambil menjerit-jerit memaki nenek tersebut.

“NENEK SETAN! NENEK SETAN!”

Kejar-kejaran itu berlangsung di malam hari, namun nenek tersebut berhasil kabur. Keesokan paginya, nenek tersebut kembali mendatangi sang perempuan. Sang perempuan kembali mengejar.

“NENEK SETAN! NENEK SETAN!”

Ya Tuhan. Sungguh nyata buah dari kesabaran. Syirik berhasil mengajarkan saya betapa pentingnya untuk bersabar. Kegembiraan ini terakhir saya rasakan saat menyaksikan film Membabi Buta. Namun karena saya bersabar, kali ini kegembiraan itu terasa dilipatgandakan. Saya bersyukur saya bersabar.

Kemudian Syirik mengajarkan saya mengenai dampak buruk dari bersekutu dengan Iblis. Bahkan dari opening credit, tagline film ditampilkan bersamaan dengan judulnya: “Siapa yang menduakan Tuhan, dia temen setan” (ya, temen pake ‘e’ bukan ‘a’).

“Halah apaan sih kalo menduakan Tuhan ya kita tahulah akibatnya buruk.”

Pasti itu yang ada di pikiran kalian. Hey, jangan sombong..

Jangan sombong dengan ilmu. Jangan dibatasi ilmu dari apa-apa yang kalian dengar dan pahami. Ilmu bagaikan laksana samudera tak bertepi, pernah dengar ungkapan tersebut? Kalaupun sudah tahu, kenapa tidak terus menggali ilmu lebih dalam?

Kalian tahu bahwa menduakan Tuhan berarti menyebabkan bayi pertama dalam kandungan seorang wanita akan menjadi korban? Tidak? Makanya jangan sombong.

Saya bersyukur mendapat ilmu berharga tentang menduakan Tuhan. Saya mungkin jelek dan payah, tapi saya tidak mau jadi temen setan.

Pelajaran berharga lainnya yang saya dapatkan dari Syirik adalah bagaimana menyikapi kemiskinan dan rasa lapar.

Saya baru menyadari bahwa selama ini saya dianugerahi banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri. Saya masih dapat mengeluarkan uang untuk membeli tiket film Syirik, saya masih dapat melangkahkan kaki untuk berjalan menuju warteg dan membeli makanan di sana, saya masih dapat membeli kuota internet. Saya mustinya bersyukur.

Maka film Syirik mengajarkan bahwa jika kalian sedang dilanda kemiskinan dan tengah kelaparan, maka kalian dapat mengonsumsi piring kaca di rumah kalian.

Makan beling adalah jawaban dari kemiskinan dan perut lapar.

L-L-L-L-L-LIFE HACK!

Apa? Kalian belum pernah mengonsumsi beling saat sedang kelaparan? Tsk. Privileged citizens macam kalian sih saya tidak heran (termasuk saya sebenarnya).

Maka pada kesimpulannya, saya merasa bahwa menyaksikan film Syirik adalah sebuah pengalaman sinematik paling berfaedah sepanjang hidup saya. Apa saya terhibur? Tentu. Apa saya mendapat kesan mendalam setelah menonton filmnya? Jelas. Apa pesan-pesan film ini dapat saya bawa pulang sesuai film berakhir? Tanpa keraguan sedikitpun, iya.

Film Syirik saya nobatkan sebagai film paling berfaedah tahun ini, hitung-hitung menyembuhkan luka batin saya seusai menyaksikan Dilan 1990.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Februari 2018 by in Bioskop, Review Film and tagged .

Navigasi

Kategori

%d blogger menyukai ini: