tabunggaselpiji

the wonder of Indonesian horror movies.

Review Psikopat

DFtONhKUMAABlJ5

Psikopat, saya patah hati.

Rasanya seperti kopi darat yang gagal. Rasanya seperti saat mengetahui orang yang kalian taksir setelah sekian lama ternyata tidak tertarik pada genre horor, seorang bigot, atau yang lebih parahnya lagi, menganggap musik Lana Del Rey membosankan. Nggak kok, nggak. Saya nggak lagi nangis.

Saya padahal naksir kamu, Psikopat. Naksir berat.

Sejak awal saya menemukan video promo film Psikopat di instagram, saya jatuh hati. Di mana lagi saya bisa melihat video promo berisi perempuan yang wajahnya dibekap kantong plastik tiba-tiba meneriakkan tanggal tayang filmnya? Atau lewat mana lagi saya bisa menyaksikan kembali sosok Baby Margaretha setelah sekian lama di layar lebar? Cuma lewat kamu, Psikopat. Dan kamu mematahkan hati saya. Tega.

Saya datang ke bioskop mengenakan kemeja hitam. Rapi. Saya baru tidur beberapa jam hari itu, karena pola tidur saya belakangan cukup berantakan. Tapi saya tidak peduli. Saya bergegas ke bioskop. Demi kamu, Psikopat.

Saat film dimulai, saya diajak berkenalan dengan Exel. Seorang vokalis band. Ia digilai perempuan, suka keributan, dan cenderung homofobik. Exel juga punya raut wajah yang menyebalkan, punya selera berpakaian yang buruk serta selera musik yang payah. Maksud saya, lihat saja nama bandnya Exel: 11:59. Wow.

Saya pikir pertemuan saya dengan Exel sudah dapat disudahi. Bisa saya bertemu dengan Baby Margaretha sekarang? Atau menyaksikan adegan-adegan kekerasan? Atau wanita yang dikejar-kejar psikopat sambil menjerit-jerit? Atau apapun yang dapat membuat filmnya menjadi menyenangkan?

Yang saya dapatkan setelah perkenalan saya dengan Exel malah adegan-adegan komedi yang luar biasa tidak lucu dan sakit kepala akibat penuturan cerita yang luar biasa berantakan. Adegan demi adegan seolah dijahit secara serampangan oleh editor film ini sehingga kesinambungan alur dan logika cerita film benar-benar amburadul. Maaf, Psikopat. Yang saya inginkan hanya balik dicintai, atau minimal dihargai. Kalau memang dari awal kamu sudah tidak tertarik pada saya, kenapa harus menarik perhatian saya sedemikian rupa lewat video promo terbaik yang pernah saya tonton atau memperlihatkan Baby Margaretha melafalkan “Pesikopat” di instagram? Jahat.

Saya berusaha tidak membenci film ini. Namun semakin lama film berjalan, saya semakin patah hati.

Sudah saya bilang saya nggak lagi nangis.

Polisi berseliweran dengan kaos Turn Back Crime, tokoh-tokoh yang melawak tak kunjung henti, pemain-pemain yang terlihat canggung di depan kamera, serta para tokoh pria yang selalu menambahkan kata “bro” dan “sob” di tiap ujung kalimat mereka tiap kali berkomunikasi.

“Bro, bro.”

“Bro.”

Wow. Kalau memang tidak suka dengan saya bukan begini caranya, Psikopat.

Dan ketimbang menggali plot yang dangkal atau memperkuat unsur horor dan ketegangan yang harusnya menjadi jualan utama Psikopat, pembuat film justru fokus pada hal-hal yang tidak terlalu penting; entah itu selipan komedi yang menjengkelkan atau menampilkan tokoh-tokoh yang sebenarnya sama sekali tidak siginifikan terhadap cerita. Pembuat film seolah tidak peduli untuk membuat filmnya menjadi menyeramkan, menegangkan, atau menarik untuk diikuti. Bagaimana bisa adegan dukun yang menerawang lewat telapak tangan di dalam film ini jadi membosankan untuk disaksikan? Bagaimana mungkin? Dan kenapa harus meminimalisir kemunculan Baby Margaretha? Kenapa? Saya salah apa?

Oke, Psikopat. Oke. Kamu memang tidak tertarik pada saya. Saya bisa terima itu. Toh penonton lain yang kemarin memenuhi bioskop tampak terhibur. Oke.  Kalau begitu ada baiknya saya mengurung diri di kamar untuk sementara waktu. Katanya, waktu akan menyembuhkan luka. Mudah-mudahan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31 Juli 2017 by in Bioskop, Review Film and tagged .

Kategori

Instagram

Tears of Kali (2004) #horror #gore #slasher #splatter #extremecinema #germanhorror
Murder-Set-Pieces (2004) #horror #gore #splatter #extremecinema #undergroundcinema #nickpalumbo
Gak mau pulang. Maunya digoyang. Nyawa melayang. Poster resmi film pendek terbaru kami; Goyang Kubur Mandi Darah. Segera. Poster by: @jailanisidik
Mumpung lagi nuansa Ramadan. Sedikit throwback ke sebuah film pendek reliji yang kami garap bersama-sama setahun yang lalu (diingetin sama Ayara Bhanukusuma). AZABKU AZABMU. Pemeran Zulaika Nafira as Ibu Teraniaya @zulaikanafira Cemara Weda as Anak Durhaka @vedachrisalit Ayara Bhanu as Ustad Beristri yang Malam-malam ke Rumah Janda @ayarabhanu Penulis dan Sutradara: Azzam Fi Rullah @azzamkalakazam Eksekutif Produser: Lukman Arbi @arbilukman Kameramen dan Editor: Dedy L Pengisi Musik: Teman Ayah Saya Desain Poster: Alzein Merdeka @mrdk_88 Segera!
Para Gadis dan Tamu Tak Diundang dalam film pendek terbaru kami; Goyang Kubur Mandi Darah. @taraellenas sebagai Intan @pucilnataart sebagai Depi @vennaviolita sebagai Wiwid @sigitpradityo sebagai Mas-mas Pembunuh Emg sok penting bat anjeng pelem pendek sampah aje berasa kek pelem layar lebar segala dibikinin poster karakter dengan segenap estetika nayatoisme total jadi ya mon map lahir batin emg padepokan sampah enih tp ya monggo di like atau follow jika ingin masuk surga, abaikan jika ingin masuk neraka. Design by: @jipanjul 💥❤👌🤘
Gak mau pulang. Maunya digoyang. Nyawa melayang. Goyang Kubur Mandi Darah. Segera.
Juli 2017
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti saya di Twitter

%d blogger menyukai ini: