tabunggaselpiji

the wonder of Indonesian horror movies.

Review Jailangkung

DCbPO4FUAAAUPiR

Kabarnya, ini film horor Indonesia termahal yang pernah dibuat. 10 Milyar!

Wow, guys.

Rizal Mantovani (terakhir menyutradarai film horor luar biasa medioker bertajuk Wewe serta iklan layanan masyarakat anti narkoba berdurasi satu jam lebih dengan setan perempuan di dalamnya) dan Jose Poernomo (film horor terakhirnya yang berjudul Tarot secara mengejutkan cukup menghibur), berkolaborasi dalam sebuah proyek reboot salah satu film horor lokal favorit kita semua: Jelangkung.

Selain duo sutradara kondang ini, terlibat serta Baskoro Adi sebagai penulis skrip. Salah satu film horor lokal yang ia tulis, Palasik (2015), cukup memikat saya. Janin dicincang, Siti Badriah yang jatuh berguling-guling di tangga dalam keadaan hamil besar, serta ending yang mencengangkan, membuat Palasik menjadi salah satu film horor Indonesia favorit saya.

Dengan mengembalikan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo di bangku sutradara, budget film yang jumlahnya tidak main-main (kabarnya sekitar 10 milyar), serta melihat adanya nama Baskoro Adi (yang saya kagumi lewat film Palasik) sebagai penulis skrip, saya jadi menaruh ekspektasi cukup tinggi terhadap hasil akhir film ini. Apakah film ini bisa menyamai atau bahkan melampaui kesuksesan film Jelangkung? Apakah akan lebih menyeramkan dari film Jelangkung? Atau paling tidak, apakah film ini akan menyeramkan?

Jailangkung sendiri punya banyak sekali ide-ide menarik yang coba ditampilkan kepada penonton. Ada komunikasi dengan arwah yang rambut dan pakaiannya senantiasa berkibar, ada Hannah Al Rasjid yang mendadak bunting dan harus melewati proses persalinan dibantu oleh para tenaga kesehatan yang bukan manusia (jreng!), serta ada para makhluk halus yang dibopong-bopong.  Kalau ide-ide ini awalnya dicetuskan oleh Mas Baskoro Adi, ingin rasanya saya memeluk beliau.

Secara visual, gambar-gambar yang ditampilkan sangat enak dipandang dan terlihat megah (budget film ini 10 milyar, kabarnya). Meski di beberapa bagian terasa seperti video klip, namun tata sinematografi di film ini cukup berhasil memperkuat atmosfir horor yang dibangun oleh Rizal dan Jose.

Jadi apakah Jailangkung berhasil menyamai kualitas film Jelangkung pada tahun 2001? Atau malah lebih baik?

Jawabannya: meh.

Kelemahan terbesar dari film Jailangkung adalah caranya menuturkan cerita. Dengan naskah yang sangat lemah dengan lubang cerita yang bertebaran di mana-mana serta tokoh-tokoh yang terasa tidak bernyawa, Jailangkung terasa sangat keteteran dalam menyampaikan ceritanya. Hal ini diperparah dengan editing yang terkesan terburu-buru dalam menyusun potongan-potongan cerita film. Saya tidak tahu apakah para editor film ini memang buru-buru menyelesaikan pekerjaan mereka agar bisa cepat-cepat berkumpul bersama keluarga di hari raya, atau karena mendapat wejangan dari produser film seperti:

“Ingat! Ini film untuk remaja! Pasarnya remaja! Kita udah bayar Amanda Rawles dan Jefri Nichol mahal-mahal! Ini film mahal! (10 milyar). Cerita penting! Biar ngga kaya pelem-pelemnya Koya Ayo Ayo itu yang plotnya tipis banget kaya jembatan Shirathal Mustaqim! Tapi jangan sampai penonton bosan! Ceritanya ditampilin cepet-cepet aja! Ga usah pake build up apa-apa! Babak perkenalannya kalo bisa ditampilin jadi montage-montage aja! Remaja jaman sekarang attention span-nya rendah! Yang penting jumpscare-nya sering ditampilin aja!”

Boom. Jailangkung pun dilempar bertepatan dengan libur Lebaran.

Jika alasan kenapa penataan gambar dalam film ini terasa tergesa-gesa karena memang para editor film harus mengejar tanggal tayang film pada saat Lebaran dan harus buru-buru pulang kampung untuk berhari raya, maka ya sudahlah. Tidak baik menahan mereka terus menerus hingga kesulitan menemui keluarga di rumah atau di kampung halaman. Mereka sudah melakukan yang terbaik. Mari kita hargai.

Dibandingkan dengan Jelangkung, maka kualitas film Jailangkung dapat dikatakan berada jauh di bawahnya. Meski ada perbedaan signifkan secara kualitas produksi (budget film ini kabarnya 10 milyar), namun kelemahan naskah serta editing yang terkesan serba buru-buru menyebabkan Jailangkung terasa inferior jika dibandingkan dengan film Jelangkung dulu. Keseluruhan film Jailangkung jadi terasa seperti sebuah cheap cash-in (ya nggak juga wong menghabiskan dana 10 milyar) yang digarap seadanya dan malas-malasan.

Sedikit cerita, penonton di depan saya beberapa kali mengeluh merasa bosan pada teman di sebelahnya. Bahkan sempat sekali penonton di depan saya tersebut memutuskan untuk memandangi langit-langit bioskop untuk waktu yang cukup lama. Ia merasa lebih terhibur memandangi speaker bioskop ketimbang menyaksikan film Jailangkung. Wow. Mungkin dia tidak tahu kabar bahwa film ini menghabiskan dana 10 milyar.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Juni 2017 by in Bioskop, Review Film and tagged .

Kategori

Instagram

Home Sweet Home (1981)

#horror #slasher #gore #80s #80sfilms #80shorror Teenage Babylon (1989)

#horror #gore #suicide #shortfilm #80s #80shorror Halloween III: Season of the Witch (1982)

Happy Happy Halloween!

#horror #thriller #slasher #gore #80s #80shorror Happy Halloween, guys. Dapet salam dari Pocong Hiu.

@zulaikanafira @nadiananandita @abekusuma @timosidin @keysezsore @akbariyus So here it is the trailer of Pocong Hiu Unleashed eheheheheheheheheheheheheheheheh

God what the fuck am I doing with my life I'm such a freaking loserthisispointlessbut anywayPadepokan Limboto and TemuHoror present

Pocong Hiu Unleashed

Cast
Zulaika Nafira as Moniq
@zulaikanafira
Nadiana Anandita as Nadia
@nadiananandita
Ayara Bhanu as Andra
@abekusuma
Timo Sidin as The Pocong Hiu
@timosidin

Written and directed by Azzam Fi Rullah
Executive Produced by
Dimas Irawan
@keysezsore
Shot and edited by
Dedy L
Sound by
Yusuf Akbar
@akbariyus

The glorious shark mask by Gojira Pramono

Thank you for watching, guys hope u enjoy it.

#filmpendek #filmindonesia #horror #thriller #gore #shortfilm #poconghiu #poconghiuunleashed Terinspirasi dari sampul majalah-majalah supranatural tanah air serta cover VCD film-film horor lokal di tahun 2000an awal, saya X @keysezsore mempersembahkan: 
Poster resmi film Pocong Hiu Unleashed.

Lord have mercy, this is embarrassingly epic. We fucking loved it.

Segera berenang di darat!
Juni 2017
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Ikuti saya di Twitter

%d blogger menyukai ini: