tabunggaselpiji

the wonder of Indonesian horror movies.

Review Membabi Buta

C-8tNyXU0AEgJ2H

Tanggal 18 Maret 2017, saya dan dua teman saya mengunjungi Plaza Baru Ciledug. Sebuah wahana rumah hantu dibuka di lantai 2 gedung tersebut. Apa bedanya dengan rumah hantu lain sehingga saya rela menempuh jarak jauh ke Ciledug? Karena rumah hantu tersebut adalah rumah hantu pertama di dunia yang bikin Anda tidak takut tapi bikin tertawa. Hantunya tidak menyentuh dan tidak ngejar. Hantunya malah bertingkah kocak…

Tambahan lagi, tema wahana rumah hantu tersebut adalah: Valak Mencari Pokecong. Ayo berhenti sejenak. Saya tau kalian berpikir apa. Benar. Pokecong adalah pokemon pocong. Selamat.

Lalu bagaimana kesan saya setelah memasuki wahana rumah hantu tersebut? Luar biasa. Pengalaman yang luar biasa singkat, tapi akan menjadi top 5 pengalaman paling berkesan dalam hidup saya. Tidak sampai lima menit saya berada di dalam wahana rumah hantu tersebut, tapi saya dapat bertemu dengan Pokecong, Valak latah, Chucky versi wanita, Iblis dari neraka, Superman Zombie, Pocong Tanpa Kepala, dan Annabelle yang anehnya tidak mengalami hibirida dengan jenis makhluk halus lainnya.

Bertemu mereka semua, saya tertawa terbahak-bahak, saya merasa sangat bahagia, bahkan sampai ikut menari bersama mereka. Valak latah sampai bertanya kepada saya, “Mas ini mabok genjer yaah???!!!”.

Tentu saja tidak. Tapi saya bahagia. 5 menit (kurang) yang membahagiakan.

Menyaksikan film Membabi Buta, hampir mengingatkan saya pada kebahagiaan ketika mengunjungi Wahana Rumah Hantu Modern Versi Komedi bersama Valak yang mencari Pokecong.

Ya. Hampir.

Jika saja Membabi Buta adalah film pendek, maka mungkin tingkat kebahagiaan yang saya rasakan saat menontonnya dapat setara dengan kunjungan saya ke Wahana Rumah Hantu Komedi. Namun Membabi Buta adalah film bioskop berdurasi panjang, dengan repetisi mengisi hampir seluruh masa tayang filmnya.

Membabi Buta menceritakan lima hari yang dilalui Mariatin saat bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah milik dua perempuan kakak-beradik Sundari dan Sulasmi, dua perempuan yang sudah tua. Selama lima hari Mariatin bekerja, kita akan melihat sebuah pola yang berulang. Pagi hari, Mairiatin menyapu, membersihkan rumah, dan diperlakukan kasar oleh Sulasmi. Siang, kita melihat anak Mariatin, Asti, bermain dengan Sundari. Malamnya, kita melihat seisi penghuni rumah makan malam, Mariatin diperlakukan kasar oleh Sulasmi, dan kemudian diakhiri dengan Mariatin yang tidur di kamarnya bersama Asti.

Tapi ini film thriller. Pembuat film membubuhkan bumbu-bumbu teror yang diselipkan dalam kegiatan yang berulang tersebut; suara-suara aneh, kehadiran tokoh misterius, tembang jawa menyeramkan yang mengalun di dalam rumah, perempuan berlumuran darah yang selalu disiksa, dan bentuk teror-teror lainnya yang semakin hari semakin parah.

Satu waktu, Mariatin mendapat mimpi buruk. Terlihat dua anak disiksa oleh seorang pembantu perempuan dan salah satu anak tersebut ditusuk matanya hingga buta. Apakah dua anak itu merupakan Sundari dan Sulasmi saat masih kecil sehingga saat mereka beranjak dewasa, mereka menjadi dua sosok malaikat maut bagi para pekerja asisten rumah tangga untuk membalas rasa sakit hati mereka karena sering disiksa oleh pembantu mereka sendiri di masa lalu? Bisa iya, bisa tidak. Namanya juga mimpi. Boleh juga nih penulisnya.

Tapi yang paling mengesankan dari film Membabi Buta—tolong pustakan seluruh perhatian kalian ke kalimat berikutnya—Prisia Nasution menghajar tokoh nenek-nenek dalam film ini secara membabi buta.

Saya tidak tahu pastinya berapa total durasi yang dihabiskan oleh Prisia Nasution untuk menghajar, menerjang dan menggetok perempuan-perempuan tua dalam film Membabi Buta. Namun yang pasti, setiap durasi yang digunakan oleh Prisia Nasution untuk menghajar, menerjang, dan menggetok para wanita tua di film ini menimbulkan kegembiraan sama seperti saat saya mengunjungi Wahana Rumah Hantu Komedi di Ciledug. Saya tertawa terbahak-bahak. Saya memukul-mukul paha saya sebagai tanda kegembiraan. Tidak ada yang menanyakan apa saya mabok genjer karena menikmati tiap momen dari Prisia Nasution yang menyerang nenek-nenek di film ini, tapi tentu saja saya tidak. Saya hanya sangat gembira.

Namun momen-momen menggembirakan itu hanya sebentar. Film lebih banyak diisi dengan Prisia Nasution yang diperlakukan ketus, membersihkan ruangan, menyelidiki isi rumah, dan lain sebagainya. Beberapa shot macam Prisia Nasution menyeduh kopi atau menyekop sampah bahkan dapat menghabiskan waktu cukup lama sebelum shot berikutnya ditampilkan. Namun tetap saja,  seperti saat saya mengunjungi Wahana Rumah Hantu Komedi di Ciledug, momen-momen Prisia Nasution menghajar nenek-nenek di film ini meski sebentar tapi tetap luar biasa menyenangkan.

Mungkin akan terasa lebih efektif dan jauh terasa lebih menghibur jika Membabi Buta digarap sebagai film pendek, atau jika penulis film ini tahu bagaimana mengembangkan cerita film ini menjadi lebih menarik. Walaupun saya cukup bersyukur karena Membabi Buta tampil sederhana dan tidak berusaha untuk menjadi sesuatu yang lebih dari cerita mengenai pembantu rumah tangga yang mengalami teror di sebuah rumah yang dihuni dua perempuan tua, namun saya yakin ceritanya dapat dikembangkan jauh lebih baik sehingga film Membabi Buta dapat menjadi film yang jauh lebih menghibur. Membabi Buta akhirnya menjadi film berdurasi panjang yang terasa keteteran dalam membangun intensitas ketegangan dan teror sebelum menuju babak klimaks dan berdampak membosankan di beberapa bagian. Rasanya jadi seperti saat mengunjungi Wahana Rumah Hantu Komedi namun sebelum menikmati wahananya kita diharuskan untuk menyaksikan bagaimana set wahananya dibangun terlebih dahulu sebelum merasakan momen-momen menyenangkannya yang hanya sebentar. Tapi setidaknya kita dapat menyaksikan nenek-nenek yang dihajar, diterjang, dan digetok, dan bagi saya itu sudah cukup memberikan kegembiraan.

Ngomong-ngomong, Prisia Nasution lebih terlihat seperti menghindari tagihan hutang ketimbang takut nyawanya melayang tiap kali berhadapan dengan para pembunuh berdarah dingin di film ini.

DSC_0069

Wujud desain poster promo Wahana Rumah Hantu Komedi di Ciledug.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Mei 2017 by in Bioskop, Review Film and tagged .

Navigasi

Kategori

Instagram

Unhinged (1982)

#horror #slasher #splatter #gore #videonasties #80s #80shorror Last House on Dead End Street (1977)

#horror #gore #splatter #snuff #70s #70shorror Our new short film. Sebuah pelem reliji.

Soon.

Poster Design by: @dekalzenmer Snow Shark: Ancient Snow Beast (2011)

#horror#gore #splatter #shark #sharksploitation Blerghhh!!! (1996)

#horror #gore #splatter #brazilianhorror #90s #90ahorror Invitation to Hell (1982)

#horror #splatter #gore #cult #80s #80shorror
Mei 2017
S S R K J S M
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ikuti saya di Twitter

%d blogger menyukai ini: