tabunggaselpiji

the wonder of Indonesian horror movies.

Review Hitam & Putih

C9QnZ88VYAAvLph

Mari membuat sebuah daftar mengenai apa saja yang dapat menyebabkan kita kelelahan:

Dipaksa lari keliling lapangan tujuh kali karena terlambat masuk sekolah.

Dikejar anjing yang berkeliaran di lingkungan kompleks.

Bercinta dengan beragam gaya dari malam hingga pagi menjelang.

Kabur dari petugas kesehatan dari Puskesmas yang datang ke sekolah untuk memberikan vaksin Difteri melalui suntik.

Membaca lalu lintas berita yang berseliweran di sosial media menjelang pilkada.

Ikut mengantri dalam antrian hari pertama Pablo dibuka.

Menyaksikan film Hitam & Putih produksi Jelita Alip Film.

Dalam waktu 90 menit, semua aspek dalam film Hitam & Putih berhasil menguras sebagian besar energi dalam diri saya seusai menonton filmnya.

Sekarang mari membuat sebuah daftar mengenai apa saja penyebab film Hitam & Putih menjadi film yang melelahkan.

Pertama, yang paling jelas adalah fakta betapa badly-dubbed-nya film ini. Coba saksikan trailer filmnya. Apakah dubbing dalam film ini mengingatkan kalian pada film-film aksi kelas B Hong Kong yang didubbing ke bahasa Indonesia dan ditayangkan di TV pada tengah malam? Atau pada kartun-kartun yang ditayangkan di TV pada hari Minggu pagi? Atau pada film-film aksi Barry Prima pada tahun 90an? Atau malah mengingatkan kalian pada sebuah pengalaman atau kenangan buruk dalam hidup kalian? Apapun itu, pengisian suara dalam film ini luar biasa menggelikan.

Mendengar para pengisi suara di film ini melakukan pekerjaannya akan berdampak pada tiga hal; tertawa sekencang-kencangnya, cringe sekuat-sekuatnya, atau tertawa sekencang-kencangnya dan cringe sekuat-kuatnya dalam waktu yang bersamaan. Dan mendengarkan pengisian suara yang menghasilkan dampak sedemikian rupa dalam waktu 90 menit merupakan sesuatu yang sangat menguras tenaga. Beberapa kali mendengar dialog-dialog (yang terkadang saya yakini merupakan hasil terjemahan yang dilakukan melalui google translate Vietnam-Indonesia) dengan pengisian suara yang luar biasa buruk tersebut menyebabkan tubuh saya panas dingin. Dan saya tidak sedang melebih-lebihkan.

Yang kedua, mengapa menyaksikan Hitam & Putih melelahkan adalah karena saya harus terus menerus menjadi saksi konflik dan pertikaian hebat di sepanjang durasi filmnya. Seperti menyaksikan perseteruan Lala dan Bombom di sinetron Bidadari atau Fitri dan Mischa di sinetron Cinta Fitri, saya dipaksa untuk menyaksikan pasangan musuh yang bentrok tidak berkesudahan dari awal hingga akhir film: para pembuat film ini dan nalar akal sehat.

Saya tidak tahu apa yang diperbuat oleh logika kepada para pembuat film di masa lalu mereka, namun perseteruan jelas terlihat di antara kedua belah pihak. Saya tidak mengerti mengapa para pembuat film memilih untuk mengabaikan logika untuk menyusun keping demi keping cerita film ini.

Sekarang saya akan membuat satu daftar baru (atau mungkin disebut subdaftar) yang merupakan contoh-contoh absennya logika atau akal sehat di dalam film ini.

Pertama, pada sebuah adegan di awal-awal film dimulai, terjadi sebuah penyanderaan terhadap seorang polisi. Sang penyandera menaruh pistol di dahi polisi yang malang. Beberapa polisi lainnya mengepung sang penyandera. Sang penyandera tidak peduli.

Kemudian in frame seorang polisi wanita cantik ke dalam lokasi penyanderaan. Polisi wanita ini mendekati penjahat dengan santai dan senyum simpul di wajahnya. Ia perlahan membuka kemejanya sebagian dan menyingkap bahunya.

“Duh panas, nih. Beli es apa, ya?”

Penjahat itu lengah. Mungkin karena terpana. Polisi melihat kesempatan. Polisi segera melancarkan aksi dan menyergap penjahat dengan mudah. Thanks to bahu mulus polisi wanita.

Kedua, semua kriminil di semesta film Hitam & Putih melakukan kejahatan terang-terangan di tempat umum. Transaksi narkoba dilakukan di sebuah taman yang ramai oleh orang-orang yang sedang piknik atau sekedar berlalu-lalang. Seseorang bahkan sempat mencicipi kokain di tengah taman tersebut (yang ternyata merupakan tepung terigu).

Di satu adegan lain, sebuah penculikan dilakukan di sebuah jalanan raya di siang hari bolong. Saya tidak tahu apa kepolisian dan hukum di Vietnam memang sebegitu lemahnya atau memang seluruh kriminil di dalam film ini luar biasa kebal timah panas (tapi tidak juga sih).

Belum lagi tingkah laku dan dialog-dialog yang susul-menyusul meluncur dari para tokoh di film ini. Dalam sebuah adegan, diperlihatkan seorang tokoh wanita yang baru saja diserang oleh penjahat menemui kakaknya di kantor polisi.

“Kakak! Aku baru saja diserang oleh seseorang di kampusku!”

“Hey! Apakah kalung yang kamu pakai sekarang dari cowok itu?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku sudah bilang aku tidak suka kau berhubungan dengan dia!”

“Aku memang cinta padanya?! Memangnya kenapa?!”

Si tokoh wanita (yang baru saja diserang di kampusnya) ditampar keras oleh kakaknya. Si tokoh wanita yang malang itu menangis, lalu menghambur keluar dari kantor polisi meninggalkan kakaknya.

Sang kakak lebih memilih untuk membahas kalung pemberian pria yang tidak ia restui berhubungan dengan adiknya ketimbang mendengarkan penjelasan lebih lanjut mengenai siapa yang menyerang adiknya di kampus.

Dan masih banyak lagi; ada tokoh sutradara yang mengubah skenario di lapangan tepat beberapa saat sebelum pengambilan gambar, peragaan gerakan bela diri di sebuah lorong, seorang tokoh perempuan yang bersikeras mengatakan bahwa ia tulus menyayangi rekan kerjanya, serta dua tokoh wanita yang berebut celana dalam pria di sebuah toko pakaian.

Sekarang bayangkan jika kalian akan menyaksikan tulisan saya di atas di dalam wujud audio-visual berdurasi 90 menit lebih. Dan yang saya jabarkan barusan barangkali masih hanya sebagian kecil di antara gempuran adegan nihil logika lainnya.

Sekarang, alasan yang akan mengakhiri daftar mengenai kenapa menonton film Hitam & Putih melelahkan adalah; karena film ini membuat saya tertawa histeris dari awal hingga akhir.

Sebuah adukan emosi yang benar-benar membuat energi saya ludes saat filmnya berakhir. Di beberapa bagian saya tertawa terbahak-bahak, di bagian lain otak saya seperti penat berusaha mencerna dengan keras adegan-adegan yang saya saksikan, di beberapa bagian tertentu pula saya merasa cringe luar biasa hingga badan saya terasa seperti meriang, dan tak jarang saya merasakan semua itu dalam satu waktu yang bersamaan.

Astaga.

Jadi apakah menonton film Hitam & Putih ini menyiksa? Di beberapa bagian, ya. Menghibur? Di beberapa bagian, sangat. Melelahkan? Betul. Tapi apa saya menyesal menyaksikan filmnya? Tidak sama sekali. Apa saya merekomendasikannya? Tergantung. Apa kalian sudah menyaksikan trailernya? Apa kalian tertawa terbahak-bahak? Jika iya maka baca lagi tulisan saya di atas. Apa kalian merasa sudah siap untuk menontonnya? Jika iya, maka tontonlah. Tapi apa kalian membenci trailernya dan merasa beban hidup kalian sudah cukup berat sehingga tidak perlu menambahkannya dengan cara menyaksikan trailernya sampai habis? Maka jangan tonton film ini.

Atau apakah kalian merindukan Roger Danuarta? Atau kalian ingin menyaksikan Roger Danuarta mencetuskan ide untuk menyerbu markas penjahat dengan membawa senjata palsu dari properti syuting film? Tonton film ini segera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 April 2017 by in Bioskop, Review Film and tagged .

Kategori

Instagram

Watch my TWO short trashy horror films tomorrow at @gudangsarinah @fantasticfilmparade !

Double Feature! Double Terror! Double Trashiness!

Pocong Hiu Unleashed
&
Pendakian Birahi!

One Day Only! Gengs, film Pocong Hiu Unleashed bakal skrining premier di Fantastic Film Parade??!! FANTASTIC FILM PARADE hadir menyambut pada akhir tahun ini dengan menayangkan beberapa film-film Fantastis dalam arti sebuah karya audiovisual yang melewati proses ekspresi yang berasal dari hati dan pemikiran yang liar dan tidak wajar dari segi pembuatan maupun visi sang pembuat film.
.
Program kali ini akan menayangkan kumpulan film2 karya Rifqi Azzam dan Sigit Pradityo. Ditambah dua film dari luar Indonesia yaitu Otis N Dwayne karya Dylan O'neal dan Orange Confucius karya Frank Fu dan Yves Gore.
.
Hadir & Ramaikan pemutaran FANTASTIC FILM PARADE 2017 pada tanggal 12-13 Desember 2017 pukul 16:00-19:00 di Gudang Sarinah ekosistem Pancoran. 
Mari menonton dan rayakan ! Salam Sinema! Boardinghouse (1982)

#horror #slasher #gore #80s #80shorror Lanetli kadinlar aka Bloody Mansion Death (1990)

#horror #gore #slasher #thriller #turkish #turkishgiallo #90s #90shorror Home Sweet Home (1981)

#horror #slasher #gore #80s #80sfilms #80shorror Teenage Babylon (1989)

#horror #gore #suicide #shortfilm #80s #80shorror
April 2017
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ikuti saya di Twitter

%d blogger menyukai ini: