tabunggaselpiji

the wonder of Indonesian horror movies.

Review Ular Tangga

C6cXv_gUoAAKxPE

Ada beragam ciri dosen yang akan kita temui saat memasuki dunia perkuliahan.

Kalian akan menemui dosen yang sering kali datang terlambat, namun pulang paling cepat. Mungkin ini adalah tipe dosen terfavorit selama kalian menjalani dunia perkuliahan, dan mungkin jenis dosen yang paling tidak pelit saat memberi nilai. Ada pula dosen yang gemar sekali mencurahkan perasaan dan berbagi pengalaman hidup di tengah-tengah penjelasan materi kuliah, kadang hingga lupa waktu. Ada juga dosen yang luar biasa sibuk dan jarang masuk kampus karena alasan-alasan seperti dinas keluar kota, menghadiri berbagai macam acara, atau agenda-agenda lain yang harus diselesaikan. Dosen yang jarang masuk ini biasanya paling sering memberikan soal-soal ujian yang mudah, barangkali karena sadar bahwa ia jarang masuk kelas dan tidak ingin merepotkan para mahasiswanya.

Lalu ada dosen yang cerdas, yang sangat menguasai materi kuliahnya, yang luas wawasannya, yang luas ilmu pengetahuannya, namun luar biasa membosankan saat mengajar. Entah karena tidak terlalu komunikatif terhadap para mahasiswa atau memang payah dalam menyampaikan materi kuliah, dosen ini acapkali menyebabkan suasana kelas menjadi luar biasa menjemukan. Kalian dapat menemukan beberapa mahasiswa tertidur pulas di atas meja kelas selama dosen tipe ini mengajar.

Dosen yang diperankan oleh Roy Marten di film ini, saya yakini sebagai dosen seperti di atas. Sosok dosen yang luar biasa membosankan.

Dan menaruh dosen macam itu di bagian pembuka film sambil menyuruh beliau menjelaskan perihal tafsir mimpi dengan cara yang membosankan menurut saya adalah langkah yang amat sangat fatal. Saya ke bioskop dengan pakaian yang rapi dan mengeluarkan uang untuk membayar karcis demi menyaksikan film horor yang saya harap dapat menghibur saya, bukan untuk bertemu dosen yang membosankan.

Alhasil, beberapa menit film dimulai, mood saya runtuh seruntuh-runtuhnya. Energi saya terkuras. Kelopak mata saya memberat. Tubuh saya merosot perlahan di bangku bioskop.

 

Wrong move, Arie Azis.

 

Ular Tangga mengajarkan kepada penonton dan juga seluruh calon pembuat film yang masih muda atau yang punya impian ingin menjadi pembuat film sebuah pelajaran berharga: jangan memulai sebuah film dengan menampilkan dosen yang membosankan mejelaskan sesuatu dengan cara yang membosankan.

Dosen yang diperankan Roy Marten juga menerangkan soal awal mula terciptanya Nabi Adam. Ya Allah.

Namun melalui segenap tenaga saya yang tersisa selama menyaksikan Ular Tangga, saya dapat melihat peningkatakan kualitas yang cukup signifikan dari sutradara Arie Azis. Camerawork film Ular Tangga terasa cukup baik dan rapi jika dibandingkan dengan fim-film beliau sebelumnya seperti Rumah Hantu Pasar Malam (2012) atau Oops! Ada Vampir (2016). Kamera berhasil menangkap dengan apik suasana angker dari hutan di film ini, meski agak disayangkan grading warna untuk film ini cukup menganggu pandangan mata.

Tidak hanya shot-shot cantik yang menjadi kekuatan film Ular Tangga, film ini juga memperlihatkan dua setan cilik yang mampu berlari dan terbang secepat kilat. Seolah-olah Flash dulunya pernah menikah dengan seorang wanita dari Indonesia dan tinggal di sebuah desa terpencil dan melahirkan dua anak yang kemudian meninggal tidak wajar dan menjadi arwah penasaran. Namun tentu bukan itu plot film Ular Tangga yang sebenarnya. Dua setan cilik berkecepatan tinggi inilah yang masih mampu menahan mata saya untuk terus terbuka meski sebelumnya dibuat berat akibat dipaksa mendengarkan penjelasan dosen di awal film.

Ular Tangga juga menampilkan Ahmad Affandi yang berperan sebagai seorang lelaki yang luar biasa bebal dan luar biasa bodoh, poster film Rahasia Perkawinan di sebuah rumah tua yang kosong di tengah hutan, Vicky Monica yang mendadak dapat mempraktekkan ilmu pelebur sukma, Fauzan Nasrul yang bersusah payah membopong tubuh Yova Gracia, serta Shareefa Danish yang diperlakukan ketus. Untuk Vicky Monica, perannya di film ini tidak semenarik saat ia memerankan tokoh di film Hantu Kuburan Tua (2015), di mana ia harus menggali kuburan, menggendong mayat bayi sambil kesurupan, dibentak Jajang C. Noer, serta menghantam kepala temannya dengan palu. Sebagian besar peran Vicky Monica di film Ular Tangga hanya menangis dan menangis, sambil menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian mengerikan yang menimpa teman-temannya.

Secara keseluruhan, Ular Tangga tidak menawarkan apa-apa yang baru dari segi cerita. Jika kalian mengharapkan film ini akan jadi sebuah film petualangan yang didasari oleh board game seperti Jumanji (1995) atau Zathura (2005) dengan cita rasa horor (seperti film Beyond the Gates, 2016) maka kalian harus menekan ekspektasi tersebut. Ular Tangga tidak menawarkan hal-hal yang baru atau berbeda dari film-film horor Indonesia kebanyakan. Dan jika kalian hanya ingin menyaksikan film ini untuk menghabiskan waktu bersama pacar atau teman-teman, mungkin ini satu-satunya film yang saya sarankan untuk masuk terlambat ke dalam bioskop. Tidak harus, tapi ada baiknya menunggu hingga kira-kira 5-10 menit film berjalan, setidaknya sampai kalian yakin tidak harus mendengarkan seorang dosen yang membosankan menerangkan sesuatu dengan cara yang membosankan. Mungkin kalian dapat menyimpan energi lebih banyak saat menontonnya nanti, dan mungkin kalian akan dapat jauh lebih terhibur saat menyaksikan filmnya dibandingkan saya kemarin.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Maret 2017 by in Bioskop, Review Film and tagged .

Navigasi

Kategori

Instagram

Hamdallah.

Acara screening film pendek kecil-kecilan kami yang juga merupakan bagian dari acara @store.wr bertajuk Layar Tancap Indie 9: #MalamErotika berjalan lancar dan menyenangkan.

Terima kasih bagi yang sudah menyempatkan hadir tadi malam dan menghabiskan malam minggunya untuk menyaksikan film-film sampah di WR Store. You guys are awesome. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya. Happy Valentine's Day.

My Bloody Valentine (1981)

#horror #gore #slasher #valentines #valentinesday #80s #80shorror The Abomination (1986)

#horror #gore #splatter #80s #80shorror Premutos - Der gefallene Engel (1997)

#horror #gore #splatter #extreme #extremecinema #olafittenbach #90s #90shorror Mas Carnaza (1997)

#horror #gore #extreme #short #90s #90shorror Absurd aka. Horrible (1981)

#horror #splatter #gore #80s #80shorror
Maret 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ikuti saya di Twitter

%d blogger menyukai ini: